PATI – Sebanyak 225 mahasiswa Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) mengikuti pembekalan intensif Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Aula 2 Kampus IPMAFA, Selasa (29/9/2026). Pembekalan ini digelar untuk mematangkan kesiapan akademik, metodologis, dan adaptasi sosial sebelum mahasiswa diterjunkan selama kurang lebih 40 hari di Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, dan Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara.
Dalam pembekalan tersebut, mahasiswa menerima materi komprehensif yang mencakup etika komunikasi, tata krama bermasyarakat, penguatan nilai keagamaan, literasi media, pemetaan kondisi geografis wilayah, hingga metodologi pemberdayaan masyarakat.
“Konsep ABCD dalam KKN IPMAFA berpijak pada lima pilar utama: pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan sosial-keagamaan. Sebelum terjun ke lapangan, peserta dibekali oleh trainer agar rencana kegiatan yang dirumuskan terarah dan memberi dampak berkelanjutan bagi masyarakat,” jelas Lutfi.
Lutfi menguraikan, pelaksanaan KKN terstruktur ke dalam tiga tahapan sistematis, dimulai Pra-KKN, Meliputi pembekalan materi, observasi awal, Focus Group Discussion (FGD), hingga perumusan dan presentasi draf program kerja. Live In, Tahap pelaksanaan di lapangan selama 40 hari yang diawali penerjunan resmi, lokakarya mini bersama warga, eksekusi program, pengumpulan data empiris, serta pencatatan berkala. Pasca-KKN, Tahap evaluasi akhir yang mencakup penyusunan laporan individu maupun kelompok serta presentasi pertanggungjawaban hasil program.
Wakil Rektor I Bidang Akademik IPMAFA, Dr. Ahmad Dimyati, M.Ag., mengingatkan agar peserta tidak sekadar mengandalkan teori yang diperoleh di ruang kuliah. Menurutnya, program pengabdian hanya akan tepat sasaran apabila didasari pemetaan kebutuhan riil masyarakat melalui riset awal.
"Teori tidak akan memberikan banyak manfaat apabila mahasiswa tidak memahami kondisi lokasi. Mulailah dengan survei lapangan, temukan aset, potensi, serta data riil di masyarakat. Pengetahuan akademis dari kampus adalah modal awal, selebihnya pelajari langsung dari dinamika warga," tegas Dimyati saat memberikan sambutan.
Dimyati juga meminta para mahasiswa siap menghadapi disparitas fasilitas di desa, mulai dari keterbatasan sarana pendukung hingga blank spot atau kesulitan sinyal telekomunikasi. Guna mengatasi dinamika tersebut, ia menekankan pentingnya komunikasi intensif antarkelompok serta konsultasi rutin bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL).
Sebagai perguruan tinggi berbasis keislaman, Dimyati menegaskan agar mahasiswa senantiasa merefleksikan nilai-nilai kepesantrenan dalam pergaulan sehari-hari.
"Sebagai representasi kampus pesantren, apa yang disampaikan dan dilakukan di masyarakat harus tetap mencerminkan akhlak serta nilai-nilai luhur pesantren," pungkasnya.
Sesi pembekalan juga menghadirkan perwakilan pemangku wilayah guna memberikan gambaran riil kondisi lapangan. Camat Margorejo, Priyono Arief Fadhilah, S.Kom., M.M., memaparkan profil 18 desa di wilayahnya yang menyimpan potensi di sektor pertanian, UMKM, pendidikan, kesehatan, serta infrastruktur.
Kendati demikian, Priyono mengingatkan mahasiswa mengenai kerentanan geografis saat musim hujan, khususnya terkait debit air dan genangan.
“Perhatikan kondisi lingkungan, terutama di wilayah seperti Desa Jimbaran yang rawan genangan air ketika musim hujan tiba. Mahasiswa harus lekas beradaptasi, menghormati adat istiadat setempat, serta menjalin komunikasi yang intens dengan pemangku desa,” tegas Priyono.
Sementara itu, pemateri dari Kecamatan Bangsri, Mahardiyan Ardiyanto, S.Kep., M.Kes., menguraikan potensi demografis dan bentang alam di Bangsri yang meliputi sentra perkebunan kopi, sentra buah-buahan, UMKM, hingga daya tarik wisata pantai dan pegunungan.
“Potensi agrowisata dan wisata alam di Bangsri sangat prospektif. Keterlibatan mahasiswa bersama warga sangat dibutuhkan untuk mengoptimalkan sektor-sektor tersebut menjadi kekuatan ekonomi masyarakat,” jelas Mahardiyan.
Selain materi teknis pemberdayaan, mahasiswa dibekali etika komunikasi digital oleh Siti Asyiah, M.Sos. Ia mengingatkan mahasiswa untuk menerapkan prinsip saring sebelum sharing saat beraktivitas di media sosial, sekaligus membekali peserta teknik dasar jurnalistik berbasis formula 5W+1H agar publikasi kegiatan KKN dapat tersaji secara faktual dan akuntabel.
Rangkaian pembekalan ditutup dengan materi penguatan keagamaan dan etika bermasyarakat oleh Siswanto, M.A. Ia menekankan pentingnya adab dan tata krama (unggah-ungguh) santri di tengah keberagaman warga desa.
“Budayakan salam, senyum, dan sapa. Hargai tradisi dan budaya yang sudah berjalan di masyarakat. Mahasiswa harus mampu menempatkan diri dan melebur sebagai bagian dari masyarakat,” pesan Siswanto.
Melalui pembekalan terpadu ini, IPMAFA menargetkan para peserta KKN mampu menjalankan program kerja partisipatif yang aplikatif, berkesinambungan, dan membawa dampak nyata bagi kemandirian desa sasaran.
Melalui pendekatan partisipatif dan kolaboratif, program KKN IPMAFA ini ditargetkan mampu mendorong pemberdayaan potensi desa sekaligus menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa.

0 Komentar