KKN IPMAFA, Pati – Di tengah gempuran era digital yang membuat anak-anak kian jauh dari dunia alam dan pertanian, Kelompok KKN Pemberdayaan IPMAFA-Sangku Wira Desa Tambaharjo hadir dengan terobosan segar.
Mereka menggelar Kelas Tani Cilik: Pembelajaran Hortikultura Sayuran bertajuk “Hidroponik Kreatif: Menanam Harapan, Menuai Kemandirian” pada Kamis (21/8/2025) di SDN 01 Tambaharjo, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati.
Kegiatan ini diikuti 28 siswa kelas 4 SDN 01 Tambaharjo dengan penuh antusias. Hadir sebagai narasumber, Sudardi, Ketua Kelompok Tani Desa Tambaharjo, yang memberikan pemahaman langsung tentang hortikultura, teknik hidroponik, hingga pemanfaatan barang bekas untuk media tanam.
Belajar Bertani Sambil Bermain
Acara diawali dengan doa bersama, perkenalan tim KKN, dan ice breaking yang membuat suasana cair. Anak-anak kemudian diajak menyebutkan sayuran kesukaan mereka, sebelum masuk ke sesi utama. Dalam praktik lapangan, siswa laki-laki menanam kangkung, sementara siswa perempuan menanam sawi.
Yang menarik, proses bercocok tanam dilakukan dengan botol bekas sebagai media hidroponik.
Selain ramah lingkungan, cara ini sekaligus mengajarkan tentang pentingnya daur ulang. Anak-anak juga dikenalkan dengan TDS meter, alat sederhana untuk mengukur kadar nutrisi tanaman, yang membuat mereka merasa seperti sedang bermain sains interaktif.
“Saya sangat terkesan dengan semangat anak-anak belajar menanam. Ini langkah awal penting memperkenalkan pertanian modern kepada generasi muda. Dengan hidroponik, mereka bisa bertani tanpa lahan luas, bahkan cukup di halaman rumah. Semoga dari tangan-tangan kecil ini lahir petani modern masa depan,” tutur Sudardi.
Salah satu siswa mengungkapkan kegembiraannya bisa belajar menanam sayuran setelah tahu ternyata botol bekas bisa dipakai untuk berkebun.
“Nanti saya mau coba bikin di rumah, pasti ibu senang kalau bisa panen sendiri,” tuturnya.
Siswa lainnya menimpali, “Awalnya saya kira bertanam itu membosankan, tapi ternyata seru! Pakai TDS meter seperti main game. Saya jadi tidak sabar menunggu kangkung saya tumbuh besar.”
Kepala SDN 01 Tambaharjo menilai program ini membawa dampak besar bagi siswa.
“Mereka belajar sains, matematika, dan kepedulian lingkungan secara langsung. Yang lebih penting, mereka jadi paham bahwa makanan tidak datang begitu saja di meja makan, ada proses panjang dan kerja keras di baliknya,” ungkapnya.
Generasi Muda, Harapan Pertanian
Koordinator Desa (Kordes) KKN IPMAFA-Sangku Wira, Anan Dwi Cahyo, menyampaikan bahwa program ini memang dirancang untuk membumikan dunia pertanian sejak dini dengan cara menyenangkan.
“Di era digital ini, anak-anak cenderung kehilangan kedekatan dengan alam. Melalui hidroponik kreatif, kami ingin menumbuhkan kembali kecintaan itu, sekaligus mengajarkan kemandirian,” jelasnya.
Dengan semangat belajar yang ditunjukkan para siswa, kegiatan ini bukan hanya sekadar menanam sayuran, melainkan juga menanam harapan baru bagi masa depan pertanian Indonesia. (Vioni Savitri Uzma/MZ)
0 Komentar