Potensi ini kini mulai diarahkan menuju pengembangan wisata religi yang terkelola, edukatif, dan berkelanjutan melalui kegiatan Diskusi Pengembangan Wisata Religi Makam Nyai Ageng Ngerang yang digelar oleh Kelompok KKN Pemberdayaan IPMAFA Amerta Bumi, Selasa (19/8/2025), di Balai Desa Tambakromo.
Kegiatan ini menghadirkan Muhammad Azwar Anas, S.Sos., Ketua Islamic Center Kajen, sebagai narasumber.
Diskusi berlangsung hangat dengan dihadiri oleh Kepala Desa Tambakromo beserta perangkat, perwakilan pengurus makam, Karang Taruna, PKK, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), serta 22 peserta lainnya.
Dalam sambutannya, Kepala Desa Tambakromo, Su’udi, menegaskan dukungan penuh masyarakat terhadap inisiatif ini.
“Masyarakat desa siap mendukung, termasuk membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, terutama Islamic Center Kajen yang sudah dikenal luas dalam pembinaan keagamaan dan pengelolaan wisata religi,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan Ahmad Sholeh, perwakilan pengurus Makam Nyai Ageng Ngerang.
“Diskusi ini sangat kami harapkan, karena bisa memberikan masukan berarti bagi pengurus makam dalam merancang pengembangan ke depan,” tuturnya.
![]() |
Foto bersama peserta diskusi Pengembangan Wisata Religi Makam Nyai Ageng Ngerang yang digelar oleh Kelompok KKN Pemberdayaan IPMAFA Amerta Bumi, Selasa (19/8/2025), di Balai Desa Tambakromo. |
Nyai Ageng Ngerang bukan hanya sosok spiritual, tetapi juga simbol penting peran ulama perempuan dalam dakwah Islam.
Setiap tahun, makamnya ramai diziarahi masyarakat dari berbagai daerah. Namun, pengelolaan yang masih tradisional membuat potensi besar ini belum optimal sebagai motor penggerak pembangunan desa.
Ketua Islamic Center Kajen, Muhammad Azwar Anas, dalam diskusinya menekankan bahwa pengembangan wisata religi harus dilakukan dengan kolaborasi lintas sektor, melibatkan pemerintah desa, tokoh masyarakat, lembaga pendidikan, hingga generasi muda.
“Wisata religi bukan sekadar soal kunjungan, tapi tentang membangun peradaban berbasis spiritual, budaya, dan ekonomi masyarakat lokal,” ujarnya.
Koordinator Desa KKN, Selamet Nur Faiz, yang sekaligus menjadi moderator diskusi, menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari rangkaian pemberdayaan masyarakat yang dirancang mahasiswa. Tujuannya adalah mengangkat potensi lokal berbasis spiritual dan sejarah Islam di Pati Selatan.
Sementara itu, Muhammad Syauqi Fittaqi, penanggung jawab program Sosial Keagamaan, menambahkan bahwa mahasiswa berharap kegiatan ini menjadi pemantik semangat masyarakat dalam membangun identitas desa yang kuat melalui wisata religi.
Dengan pendekatan berbasis sejarah, spiritualitas, dan partisipasi masyarakat, KKN IPMAFA Amerta Bumi ingin menegaskan bahwa wisata religi bukan hanya memperkuat spiritualitas dan hubungan sosial, tetapi juga membuka peluang ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta menghidupkan UMKM lokal.
Langkah awal ini diharapkan menjadi pondasi kuat bagi Desa Tambakromo untuk menapaki jalan sebagai desa wisata religi yang modern tanpa kehilangan kearifan lokalnya. (Selamet Nur Faiz/MZ)
0 Komentar